First Digital Coloring

A Small Pack of Makassar

Pelatihan Zero Waste Lifestyle YPBB

Watercoloring My Life

Kelas Foto Komersil Tobucil

Punclut Tak Berbintang..

Tampilkan postingan dengan label activity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label activity. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

First Digital Coloring

I had been wondering how to color a manual drawing in a software like Photoshop. Aaand finally I found a good tutorial from yulianzone blog. Then I tried to create one, turned my hand-drawing:


into this


Yay, right? :D


Senin, 03 November 2014

A Small Pack of Makassar

Nobody warned me Makassar is so wonderful. Until I went there and realized I should have stay much much muuuch longer. You know, Makassar is one complete package to spend holiday. Say hello to good foods, great beaches, highlands, and various cultures. This was my first visit.
Our first destination was Bantimurung and Balasaurung National Park. Bantimurung is well known  for its butterflly. At first I felt a bit frightened thinking about that animal. Frankly, I don't like butterfly or any other insects, but I was disappointed that I did not find any living butterfly as I arrived there. They were all frozen in glass boxes or acrylics as souvenirs. Died. 
One of the officers said the butterflies live on the higher land. Another said it was not the season. I myself just found one monkey on a tree. 


                                                                   Best View in Bantimurung

                                                               Bantimurung Waterfall

The next day we headed to Malino, a highland to get some fresh air. In the middle of the trip, we stop by for lunch in Bili-Bili. We can eat while enjoying Bili-Bili lake.
                                                                      Bili-Bili Lake


               
Aand finally we arrived at Malino with beautiful pine forest.
Great ambience

 

                  




I must say, South Sulawesi is incredibly wonderful. See you very soon, dear.

Jumat, 25 April 2014

Pelatihan Zero Waste Lifestyle YPBB

                                                         Peserta dari SMA 16 Bandung

       Jika mendengar kata ‘sampah’, tentu pikiran kita langsung tertuju pada jargon “Buanglah Sampah Pada Tempatnya” bukan? Jargon yang sudah sejak lama sering kita temui ini ternyata tidak sepenuhnya tepat. Jika kita mau sedikit lebih peduli, sampah sebenarnya harus dipisah sesuai jenisnya saat hendak dibuang. Lebih baik lagi jika kita bisa memanfaatkan sampah atau sejak awal mengurangi jumlah sampah dengan tidak mengonsumsi barang-barang yang dijual dengan kemasan plastik. Pemahaman  semacam ini perlu ditanamkan kepada setiap orang, terlebih kepada mereka yang memiliki kapasitas sebagai pembuat kebijakan. Guru-guru dan perangkat OSIS merupakan contoh orang-orang yang mampu membuat kebijakan di lingkungan sekolah. Untuk itulah YPBB menyelenggarakan Pelatihan Zero Lifestyle dengan mengundang beberapa sekolah di Bandung. SMA 16 Bandung adalah salah satu sekolah yang diundang ke kantor YPBB di Jl. Sidomulyo No. 21 pada hari Kamis, 24 April lalu. Kegiatan ini diawali dengan permainan sehingga suasana pelatihan menjadi hangat dan akrab. Usai permainan, masuklah ke sesi pertama mengenai jenis-jenis sampah dan cara penanggulangannya. Peserta juga diajak melihat fakta dan angka di lapangan mengenai permasalahan sampah yang dihadapi oleh warga Bandung khususnya. Semua peserta baik guru maupun siswa-siswi tampak antusias dan aktif menyuarakan gagasan untuk perubahan lingkungan yang selaras dengan alam.

Searah jarum jam: penyampaian materi, pembuatan takakura, permainan

       Sesi pertama diakhiri dengan istirahat dan makan siang lalu dilanjut sesi kedua. Peserta diajak melihat proses pembuatan takakura yang merupakan salah satu cara mengolah sampah organik di lingkungan sekitar seperti sisa makanan.  Kemudian acara dilanjutkan dengan tur kantor YPBB.
       Melalui acara pelatihan ini, guru dan murid mendapatkan pengetahuan mengenai gaya hidup organis dan diharapkan mampu membuat perubahan di lingkungannya masing-masing. 

Senin, 17 Maret 2014

Watercoloring My Life



        Kali ini saya akan membahas media lukis yang bernama cat air. Saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya belajar melukis dengan cat air dan merk-merk cat air yang pernah saya gunakan.
      Tidak bisa dipungkiri, at some points of your life, hampir semua anak sekolah akan mengenal satu merk cat air pertamanya yang tidak lain tidak bukan adalah......Guitar. Kalau tidak salah waktu SMA harganya yang kemasan kecil Rp 3,000. Cat ini berbentuk pasta dalam kemasan tube.Seumur hidup saya hanya mengetahui satu merk itu saja. Cat air merk Guitar warnanya pekat dan kusam juga sedikit kasar (jika telah kering akan terasa serbuk-serbuk pada permukaan lukisan). Seperti ini penampakannya:
Lalu, saat kuliah saya iseng membuat hiasan yang membutuhkan cat air. Saya pun mencari ke toko buku dan menemukan cat air merk Marie's. Lumayan lah ini harganya Rp 60,000 pasti berkualitas, pikir saya. Ini cat air ke-dua yang saya pernah pakai.

                                                                      sumber: google

Benar saja, ketika saya coba warnanya sangat vivid dan cerah seperti cat poster. Permukaannya juga terasa halus. Tapi saat itu saya mengaplikasikan catnya secara asal di atas kanvas. Saya tidak tahu teknik tertentu, yang penting bidang gambar tertutup warna.
         Sekitar awal tahun 2012, saya mengikuti kelas cat air untuk pemula di Tobucil n Klabs, Bandung. Pengajarnya adalah R.E Hartanto, atau yang akrab disapa Mas Tanto, seorang dosen Seni Rupa ITB. Pada pertemuan pertama saya membawa cat air Marie's dan satu buah kuas seharga Rp 1,500. Mas Tanto tampak ingin tertawa melihat kuas yang saya bawa.
"Ini kuas apa? Ini mah kuas bulu tikus! Kuas yang bagus itu kalau disapukan bentuknya kembali ke semula. Nih, kamu pinjem kuas saya aja ya"
Sambil menahan malu, saya menerima pinjaman kuas Bali Artist milik Mas Tanto. Berikutnya saya menuangkan cat dari dalam tube ke palet plastik murahan warna hijau tua. Yak! Satu lagi kesalahan saya. Karena warna paletnya tua jadi warna catnya tidak terlihat jelas.
        Saya melihat cat air yang digunakan Mas tanto berupa balok-balok padat kecil dalam tempat pensil kaleng merk Rembrandts. Milik Rani juga berbentuk padat, merknya Reeves. Milik Mbak Upi juga. Sementara kepunyaan Risda merk Sakura. Ada juga yang bentuknya padat dalam kotak kayu yang terlihat sangat mahal. Reeves dan Sakura merupakan cat student grade, sementara sisanya cat artist grade. Baru hari itulah saya mengetahui ada jenis cat air padat. Selama ini setahu saya semua cat air berbentuk pasta dalam tube. Kalaupun pernah melihat yang padat, saya kira itu cat untuk mainan anak kecil. Mas Tanto pun menganjurkan memakai cat air padat untuk kelas ini agar lebih praktis dan tidak membuang banyak waktu saat melukis.
         Usai pertemuan itu, saya bertekad untuk membeli cat air padat. Saya pergi ke Balubur dan hanya menemukan merk Giotto seharga Rp 30,000. Sebenarnya budget saya lebih dari itu, tapi apa boleh buat. Saya beli cat Giotto, satu  kuas bulat Lyra no 5, dan satu buah concorde sketchbook khusus cat air. Cat air padat ternyata memudahkan saya dalam melukis. Tidak perlu repot, tinggal colek-colek dan mencampur warna.

         Kelas melukis cat air di Tobucil hanya empat kali pertemuan. Materinya pun terbatas hanya teknik chiaroscuro.
Chiaroscuro berasal dari kata Italia yang berarti gelap-terang yang bisa juga diartikan menjadi kontras yang sangat kuat antara cahaya dan bayangan di dalam suatu karya seni.
Hal yang menjadi ciri khas chiaroscuro adalah pengaplikasian cahaya pada objek lukisan yang memberikan kesan trimatra sangat jelas akibat pengaplikasian hhighlight dan bayangan. Teknik ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang perspektif, reaksi permukaan benda terhadap pantulan cahaya, dan proses pembentukan bayangan. (Wikipedia)

         Yang saya tidak menyangka adalah bahwa ternyata kelas ini sangat sulit dan melelahkan. Melukis dengan cat air seharusnya transparan sehingga terlihat lapisan atau tumpukan sapuan warnanya, tetapi Mas Tanto selalu bilang bahwa saya terlalu rapi dan 'ngeblok' seperti mewarnai menggunakan corel draw sehingga tidak tampak keindahan khas cat air. Saya juga kesulitan mengidentifikasi gelap terang pada contoh gambar yang harus dilukis.
         Balik lagi ke masalah merk cat air, saya mulai bosan sama Giotto karena menurut saya warnanya agak opaque. Saya kembali berburu cat air baru. Kali ini tujuan saya Gramedia. Di Gramedia ternyata yang dijual tidak begitu beragam. Hanya ada Reeves, Giotto, Pentel, dan saya menemukan merk Pelican. Sebenarnya dilihat dari kemasan, Reeves lebih compact dan ramping. Tetapi, entah mengapa saya memilih Pelican. Harganya Rp 60,000. Seperti ini tampaknya kekasih baru saya:

Pelican mampu memenuhi ekspektasi saya. Warnanya halus dan transparan cocok untuk digunakan pada berbagai teknik. Dengan bantuan video tutorial di youtube, saya bisa belajar beberapa teknik seperti teknik wet on wet dan mencampur warna. Akhirnya saya bisa membuat efek cat air seperti yang sering saya temukan di Tumblr. Pokoknya saya dan Pelican selalu bersama tak terpisahkan. Dia seperti obat saat sedih melanda *yes river*


         Lama kelamaan saya kurang puas dengan cat Pelican karena warnanya terlalu soft sehingga kurang maksimal dalam mengekspresikan suasana hati saya yang cerah ceria (naon sih).  Jadi saya berniat membeli cat baru yang lebih bagus seperti Tallens atau Cotman. Setelah mencari ke sana kemari saya tidak kunjung menemukan. Memang cat merk tersebut biasanya dijual di toko khusus perlengkapan seni lukis. Salah satunya di Toko Tidar di daerah Cihapit. Namun, karena tempatnya sedikit rumit dan sulit dijangkau, saya pun memutuskan untuk membeli cat Reeves. Ini foto cat air dan hasil lukisan menggunakan Reeves:


Reeves memang lebih kuat pigmennya, tetapi sedikit kusam dan tidak bagus untuk teknik wet on wet. Warnanya tidak menyebar sempurna seperti Pelican. Akhirnya saya pun kembali ke pelukan Pelican tercinta.
Ini lukisan terakhir saya menggunakan Pelican:


Saya masih terus belajar agar kelak siap untuk menggunakan cat artist grade untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda. Sekian yang dapat saya sampaikan berdasarkan pengalaman yang saya alami. Salam cat air! :)






Sabtu, 27 November 2010

Punclut Tak Berbintang..

Spent the night with setan2 2CW


ga nyangka abiss suara mereka dahsyatt bgt :'(



Niki Groban dan Ado Bieber..iihhh